Senin, 22 Agustus 2011

Keselarasan Spiritual dalam Analogi Penyampaian Sang Nabi


Apa itu spiritual?...hal ini menyambung notes saya yang terdahulu berjudul "Spiritualisasi dan Agama", dalam hal ini saya memaparkan spiritualisasi versi saya dan dari pengalaman saya pribadi atau lebih tepatnya OPINI PRIBADI, jika anda mempunyai pengalaman yang berbeda dengan saya hal itu adalah biasa, karena setiap individu memiliki pengalaman spiritualismenya masing-masing secara unique.

Spiritual adalah sebuah pengalaman dari perjalanan rasa yang dipaparkan secara falsafatis, puitis, analogis, dan dirumuskan kedalam kerangka ilmiah (teorema pembenaran).

Perjalanan spiritual ini akan dialami seseorang jika :

1.Merasa ketidaknyamanan didalam sebuah sistem berkehidupan, baik itu kekangan norma, agama, adat, hukum, atau apapun itu namanya yang menyebabkan terdorongnya keinginan simanusia tersebut mencari sebuah kriteria faham yang sesuai dengan standard yang mereka ingini, dan kategori ini disebut "Pencari Pencerahan" 

2. Datang dengan sendirinya karena sensitifitas berfikir dan ber-rasa (genius akal dan genius hati), dan kategori ini disebut "Terberkati akan Pencerahan"  

Pencerahan ini selalu dilatarbelakangi disiplin doktrin yang mereka anut. Sistem Kesufian didalam islam adalah mencari pencerahan dengan mencapai ittihat atau hulul dalam meditasi dzikirnya dengan tujuan ALLAH dan lebih sering dikenal dengan istilah fana' al fana', begitu juga dengan aliran-aliran spiritual lainnya dengan tujuan yang sama praktik yang sama, serta pencapaian yang sama, hanya istilah dan mantram (do'a) sugesti yang berbeda. 

Karena dilatar belakangi inilah para spiritualis beranggapan bahwa agama itu hanyalah sebuah pengantar dari kesatuan jiwa menuju pencerahan dan tidak ada lagi agama yang mendoktrinasi mereka pada tahap pencerahan tertinggi karena mereka beranggapan bahwa semuanya adalah satu, tanpa sekat, baik itu tubuh, agama, gender, ras, biologis, benda mati, benda hidup, dan lainnya.

Para spiritualis tidak lagi membicarakan tuhan, karena semuanya adalah tuhan dalam pendaran cahayanya, namun pendaran tersebut bukanlah sebuah kehakikian akan sumber cahaya itu sendiri, bahkan tidak sedikitpun menyentuh substansinya.

Bagi spiritualis yang berusaha menselaraskan pengalaman mereka dengan latarbelakang kehidupan beragama yang mereka miliki cenderung menjadi penyendiri, tertutup, antagonistis, puitis, atau bahkan berakhir dengan kegilaan (majnun/darwis), karena mereka cukup kesulitan untuk bisa menselaraskannya dalam sebuah pembenaran hukum-hukum agama, namun jika mereka berhasil, mereka akan kembali dengan kecerdasan sang sumber.

Spiritualisasi dan Agama


Sudah lama saya tidak menulis sebuah notes, dan mungkin notes ini akan memberikan sedikit tambahan sudut pandang tentang korelasi antara spiritualisasi dengan agama, atau malah menjadikan sebuah pertentangan antara keduanya, kenapa tidak?, bukankah membicarakan agama dan spiritualisasi merupakan sebuah wacana dalam siklus opini dan persepsi?, jadi notes ini akan tetap menjadi sebuah  opini dan persepsi subjektif masing-masing anda.

Kita akan memulai dari agama, agama merupakan sebuah aturan berkehidupan dalam tatar budaya tempat diciptakan agama tersebut. Para pencipta agama sering disebut dengan nabi yang memiliki nubuwah (propechy) dari pengalaman spiritual masing-masing nabi tersebut. Namun karena keterbatasan kemampuan penyampaian logis atau karena ingin menyesuaikan perspektif dengan masyarakat yang hidup dikala itu, maka penyampaian yang dilakukan para nabi cenderung memiliki tatar bahasa falsafati atau puisi-puisi yang mampu membuat ribuan opini dari setiap kata yang mereka tulis, dan kata-kata ini tertuang kedalam "firman tuhan", atau "Sabda nabi".

Lalu kenapa agama menjadi sebuah keyakinan (faith) ?, bukankah tatanan berkehidupan tersebut tak lebih dari sebuah hukum dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sebuah sistim kepemerintahan biasa?....benar!, anda telah menebaknya dengan tepat, agama menjadi sebuah keyakinan karena didalamnya terdapat nilai-nilai spiritual dari pengalaman sang nabi, nilai-nilai spiritual ini dianalogikan kedalam surga,neraka,iblis,setan,malaikat, atau tuhan. 

Dan para nabi atau para orang suci tersebut  telah berjasa membagikan pengalaman spiritualnya dalam rangkuman kitab suci atau narasi-narasi pendek yang dihantarkan melalui mulut kemulut. Pemaknaan dari analogi falsafatis pengalaman spiritual tersebut memiliki persepsi yang unik terhadap  masing-masing individu, tergantung dari kepentingan apa yang bisa mereka peroleh dari hasil pemaknaan tersebut, kekuasaankah?, Hartakah?, Kehormatankah?, Cintakah?, dan ribuan alasan pembenaran lainnya.

Namun agama dan spiritualisasi bukanlah suatu hal yang dapat dicampurkan jika anda masih merasakan tendensi keinginan dalam pemakanaan dan pencariaannya, posisikanlah agama sebagai disiplin pribadi, dan spiritualisasi sebagai disiplin umum, bukan malah sebaliknya.

Rabu, 03 September 2008