Apa itu spiritual?...hal ini menyambung notes saya yang terdahulu berjudul "Spiritualisasi dan Agama", dalam hal ini saya memaparkan spiritualisasi versi saya dan dari pengalaman saya pribadi atau lebih tepatnya OPINI PRIBADI, jika anda mempunyai pengalaman yang berbeda dengan saya hal itu adalah biasa, karena setiap individu memiliki pengalaman spiritualismenya masing-masing secara unique.
Spiritual adalah sebuah pengalaman dari perjalanan rasa yang dipaparkan secara falsafatis, puitis, analogis, dan dirumuskan kedalam kerangka ilmiah (teorema pembenaran).
Perjalanan spiritual ini akan dialami seseorang jika :
1.Merasa ketidaknyamanan didalam sebuah sistem berkehidupan, baik itu kekangan norma, agama, adat, hukum, atau apapun itu namanya yang menyebabkan terdorongnya keinginan simanusia tersebut mencari sebuah kriteria faham yang sesuai dengan standard yang mereka ingini, dan kategori ini disebut "Pencari Pencerahan"
2. Datang dengan sendirinya karena sensitifitas berfikir dan ber-rasa (genius akal dan genius hati), dan kategori ini disebut "Terberkati akan Pencerahan"
Pencerahan ini selalu dilatarbelakangi disiplin doktrin yang mereka anut. Sistem Kesufian didalam islam adalah mencari pencerahan dengan mencapai ittihat atau hulul dalam meditasi dzikirnya dengan tujuan ALLAH dan lebih sering dikenal dengan istilah fana' al fana', begitu juga dengan aliran-aliran spiritual lainnya dengan tujuan yang sama praktik yang sama, serta pencapaian yang sama, hanya istilah dan mantram (do'a) sugesti yang berbeda.
Karena dilatar belakangi inilah para spiritualis beranggapan bahwa agama itu hanyalah sebuah pengantar dari kesatuan jiwa menuju pencerahan dan tidak ada lagi agama yang mendoktrinasi mereka pada tahap pencerahan tertinggi karena mereka beranggapan bahwa semuanya adalah satu, tanpa sekat, baik itu tubuh, agama, gender, ras, biologis, benda mati, benda hidup, dan lainnya.
Para spiritualis tidak lagi membicarakan tuhan, karena semuanya adalah tuhan dalam pendaran cahayanya, namun pendaran tersebut bukanlah sebuah kehakikian akan sumber cahaya itu sendiri, bahkan tidak sedikitpun menyentuh substansinya.
Bagi spiritualis yang berusaha menselaraskan pengalaman mereka dengan latarbelakang kehidupan beragama yang mereka miliki cenderung menjadi penyendiri, tertutup, antagonistis, puitis, atau bahkan berakhir dengan kegilaan (majnun/darwis), karena mereka cukup kesulitan untuk bisa menselaraskannya dalam sebuah pembenaran hukum-hukum agama, namun jika mereka berhasil, mereka akan kembali dengan kecerdasan sang sumber.