Sudah lama saya tidak menulis sebuah notes, dan mungkin notes ini akan memberikan sedikit tambahan sudut pandang tentang korelasi antara spiritualisasi dengan agama, atau malah menjadikan sebuah pertentangan antara keduanya, kenapa tidak?, bukankah membicarakan agama dan spiritualisasi merupakan sebuah wacana dalam siklus opini dan persepsi?, jadi notes ini akan tetap menjadi sebuah opini dan persepsi subjektif masing-masing anda.
Kita akan memulai dari agama, agama merupakan sebuah aturan berkehidupan dalam tatar budaya tempat diciptakan agama tersebut. Para pencipta agama sering disebut dengan nabi yang memiliki nubuwah (propechy) dari pengalaman spiritual masing-masing nabi tersebut. Namun karena keterbatasan kemampuan penyampaian logis atau karena ingin menyesuaikan perspektif dengan masyarakat yang hidup dikala itu, maka penyampaian yang dilakukan para nabi cenderung memiliki tatar bahasa falsafati atau puisi-puisi yang mampu membuat ribuan opini dari setiap kata yang mereka tulis, dan kata-kata ini tertuang kedalam "firman tuhan", atau "Sabda nabi".
Lalu kenapa agama menjadi sebuah keyakinan (faith) ?, bukankah tatanan berkehidupan tersebut tak lebih dari sebuah hukum dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sebuah sistim kepemerintahan biasa?....benar!, anda telah menebaknya dengan tepat, agama menjadi sebuah keyakinan karena didalamnya terdapat nilai-nilai spiritual dari pengalaman sang nabi, nilai-nilai spiritual ini dianalogikan kedalam surga,neraka,iblis,setan,malaikat, atau tuhan.
Dan para nabi atau para orang suci tersebut telah berjasa membagikan pengalaman spiritualnya dalam rangkuman kitab suci atau narasi-narasi pendek yang dihantarkan melalui mulut kemulut. Pemaknaan dari analogi falsafatis pengalaman spiritual tersebut memiliki persepsi yang unik terhadap masing-masing individu, tergantung dari kepentingan apa yang bisa mereka peroleh dari hasil pemaknaan tersebut, kekuasaankah?, Hartakah?, Kehormatankah?, Cintakah?, dan ribuan alasan pembenaran lainnya.
Namun agama dan spiritualisasi bukanlah suatu hal yang dapat dicampurkan jika anda masih merasakan tendensi keinginan dalam pemakanaan dan pencariaannya, posisikanlah agama sebagai disiplin pribadi, dan spiritualisasi sebagai disiplin umum, bukan malah sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar